hero-header

RSUD dr. M. Haulussy Ambon

Aspilets: Antiplatelet untuk Jantung dan Otak

 

“Dok, Aspilets ini obat pengencer darah, ya?”

Pertanyaan seperti ini cukup sering terdengar di ruang praktik. Ada pasien yang meminumnya setelah serangan jantung, ada yang mendapatkannya setelah stroke iskemik, dan ada pula yang ingin mulai mengonsumsinya sendiri karena mempunyai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau sekadar merasa usianya sudah semakin bertambah.

Di sinilah pemahaman yang benar menjadi penting.

Aspilets merupakan salah satu nama dagang obat yang mengandung aspirin atau asam asetilsalisilat (acetylsalicylic acid). Aspilets yang beredar saat ini tersedia sebagai tablet salut enterik 100 mg. Dalam dosis rendah, aspirin terutama digunakan sebagai obat antiplatelet, yaitu obat yang mengurangi kemampuan trombosit untuk saling melekat dan membentuk bekuan darah.1

Karena itu, istilah “pengencer darah” sebenarnya merupakan istilah awam. Darah tidak benar-benar dibuat menjadi lebih encer. Yang dipengaruhi adalah salah satu mekanisme pembentukan trombus atau bekuan darah.

Obat yang tampak sederhana dapat mempunyai manfaat besar bila indikasinya tepat—dan risiko yang tidak kecil bila digunakan tanpa pertimbangan yang benar.

1. Apa Itu Aspilets?

Aspilets adalah nama dagang aspirin dosis rendah. Zat aktifnya adalah asam asetilsalisilat, suatu obat yang mempunyai berbagai efek tergantung dosis dan tujuan penggunaannya.

Dalam konteks penyakit jantung dan pembuluh darah otak, aspirin dosis rendah digunakan terutama karena efek antiplatelet.

Artinya, tujuan utama pemberian obat bukan untuk menghilangkan nyeri atau menurunkan demam, melainkan membantu mencegah trombosit membentuk sumbatan pada pembuluh darah pada pasien yang memang mempunyai indikasi.

Karena Aspilets merupakan obat keras, penggunaannya sebaiknya berdasarkan evaluasi dan rekomendasi dokter.

2. Trombosit dan Bekuan Darah

Tubuh kita mempunyai sistem yang sangat teratur untuk menghentikan perdarahan. Salah satu pemain penting dalam sistem tersebut adalah trombosit, atau keping darah.

Ketika pembuluh darah terluka, trombosit akan aktif, menempel pada area cedera, kemudian saling berikatan. Proses ini sangat penting agar perdarahan dapat berhenti.

Namun, pada penyakit aterosklerosis, mekanisme tersebut dapat menjadi bagian dari proses penyakit.

Aterosklerosis menyebabkan terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah. Ketika plak mengalami erosi atau pecah, trombosit dapat teraktivasi dan berkumpul dengan cepat pada permukaan plak.

Terbentuklah trombus atau bekuan darah yang dapat mempersempit bahkan menutup aliran darah.

Jika proses tersebut terjadi pada pembuluh darah koroner di jantung, akibatnya dapat berupa sindrom koroner akut atau infark miokard (serangan jantung).

Jika terjadi pada pembuluh darah yang menuju atau berada di otak, akibatnya dapat berupa stroke iskemik atau transient ischemic attack (TIA).2–5

Inilah salah satu alasan aspirin mempunyai tempat penting baik dalam bidang kardiologi maupun neurologi.

3. Bagaimana Aspirin Bekerja?

Aspirin menghambat enzim cyclooxygenase-1 (COX-1) pada trombosit secara ireversibel. Akibatnya, pembentukan thromboxane A₂, suatu mediator penting dalam aktivasi dan agregasi trombosit, menjadi berkurang.

Secara sederhana:

Aspirin → menghambat COX-1 → thromboxane A₂ menurun → agregasi trombosit berkurang → pembentukan trombus berkurang.

Karena trombosit tidak mempunyai inti sel yang memungkinkan pembentukan kembali enzim tersebut secara penuh, efek aspirin pada trombosit yang sudah terpapar bertahan selama sisa umur trombosit tersebut.

Inilah salah satu alasan dosis aspirin yang relatif rendah sudah dapat menghasilkan efek antiplatelet yang bermakna.

4. Antiplatelet Bukan Antikoagulan

Meskipun keduanya sering disebut masyarakat sebagai “obat pengencer darah”, antiplatelet dan antikoagulan bukan kelompok obat yang sama.

Antiplatelet

Antikoagulan

AspirinWarfarin
ClopidogrelApixaban
TicagrelorRivaroxaban
PrasugrelDabigatran
Terutama menghambat aktivasi dan agregasi trombositTerutama bekerja pada sistem faktor koagulasi dan pembentukan fibrin

 

Perbedaan ini mempunyai konsekuensi klinis yang besar.

Pada penyakit aterotrombotik tertentu, antiplatelet merupakan terapi yang tepat. Namun pada keadaan lain—misalnya stroke yang berhubungan dengan fibrilasi atrium—pasien yang memenuhi indikasi umumnya membutuhkan antikoagulan, bukan sekadar aspirin.2,6

Karena itu, mengganti antikoagulan dengan Aspilets tanpa petunjuk dokter dapat menyebabkan perlindungan terhadap stroke menjadi tidak memadai.

5. Satu Obat untuk Jantung dan Otak

Aspirin merupakan salah satu contoh terbaik bahwa penyakit jantung dan penyakit otak sering kali merupakan bagian dari satu spektrum penyakit pembuluh darah.

Pada pembuluh darah koroner:

Aterosklerosis → ruptur atau erosi plak → aktivasi trombosit → trombus → berkurangnya aliran darah jantung → sindrom koroner akut atau infark miokard.

Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut PERKI 2024 menempatkan aspirin sebagai komponen penting terapi antiplatelet pada sindrom koroner akut.3

PNPK Tata Laksana Sindrom Koroner Akut 2026 juga memperkuat pendekatan terapi antitrombotik berbasis risiko pada pasien sindrom koroner akut.5

Pedoman ACC/AHA dan ESC juga menempatkan aspirin serta inhibitor P2Y12 sebagai bagian penting strategi antiplatelet pada sindrom koroner akut dan setelah intervensi koroner.7–9

Pada pembuluh darah otak, sumbatan dapat menyebabkan sebagian jaringan otak kehilangan suplai darah dan oksigen sehingga terjadi stroke iskemik.

PNPK Tata Laksana Stroke 2026 menempatkan aspirin sebagai salah satu terapi antiplatelet pada stroke iskemik dalam situasi klinis yang sesuai dan sebagai salah satu pilihan untuk pencegahan sekunder pada stroke/TIA nonkardioembolik.2

Dengan demikian, obat yang sama dapat digunakan dalam penyakit jantung maupun penyakit serebrovaskular, tetapi indikasi, kombinasi obat, waktu pemberian, dan lama terapinya tidak selalu sama.

6. Tidak Semua Stroke Boleh Diberi Aspirin

Bayangkan seseorang tiba-tiba mengalami wajah mencong, satu tangan atau kaki melemah, dan bicara menjadi pelo.

Apakah keluarga sebaiknya segera memberikan Aspilets?

Tidak.

Gejala tersebut merupakan kegawatdaruratan stroke. Pasien harus SeGeRa Ke RS untuk menjalani pemeriksaan dan pencitraan otak sesuai indikasi.

Stroke dapat disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) ataupun pecahnya pembuluh darah (stroke perdarahan).

Kedua kondisi tersebut tidak dapat dibedakan secara pasti hanya berdasarkan gejala di rumah.

Memberikan aspirin kepada seseorang yang ternyata mengalami perdarahan otak berpotensi memperburuk perdarahan.

Bahkan pada stroke iskemik, aspirin bukan pengganti terapi reperfusi. PNPK Stroke 2026 menegaskan bahwa pemberian aspirin tidak menggantikan trombolisis intravena ataupun trombektomi mekanik pada pasien yang memenuhi indikasi terapi tersebut.2

Jadi pesan kepada masyarakat bukan:

“Kalau curiga stroke, cepat minum Aspilets.”

Pesannya adalah:

“Kenali gejalanya dan SeGeRa Ke RS.”

7. Mengapa Kadang Dua Antiplatelet Diberikan Bersamaan?

Sebagian pasien bertanya:

“Dok, mengapa saya mendapat aspirin sekaligus clopidogrel?”

Pemberian dua obat antiplatelet disebut dual antiplatelet therapy (DAPT).

Menghambat aktivitas trombosit melalui dua mekanisme yang berbeda dapat memberikan perlindungan lebih kuat terhadap kejadian trombotik pada kondisi tertentu. Namun keuntungan tersebut harus selalu ditimbang terhadap meningkatnya risiko perdarahan.

Karena itu:

Dua antiplatelet tidak otomatis lebih baik daripada satu antiplatelet.

Pada stroke iskemik minor atau TIA tertentu, kombinasi aspirin dan clopidogrel dapat digunakan dalam jangka pendek. PNPK Stroke 2026 merekomendasikan DAPT pada pasien terpilih, umumnya selama 21 hari, kemudian dilanjutkan dengan satu antiplatelet. Pada stenosis aterosklerotik intrakranial berat tertentu, durasi dapat berbeda sesuai kondisi klinis.2

Pendekatan DAPT jangka pendek ini juga didukung oleh penelitian besar seperti CHANCE dan POINT.10,11

Pada sindrom koroner akut, konteksnya berbeda. Aspirin dapat dikombinasikan dengan inhibitor P2Y12 seperti clopidogrel, ticagrelor, atau prasugrel sesuai kondisi pasien. Durasi terapi sering lebih panjang dibandingkan pada stroke minor/TIA, terutama setelah intervensi koroner dan pemasangan stent.3,5,7

Namun durasi tersebut tidak berlaku sama bagi semua orang.

Dokter akan mempertimbangkan antara lain:

  • risiko terjadinya trombosis;

  • risiko perdarahan;

  • apakah pasien menjalani pemasangan stent;

  • jenis sindrom koroner akut;

  • penggunaan antikoagulan;

  • usia dan komorbiditas; serta

  • kondisi klinis individual.

Inilah sebabnya pasien stroke dan pasien serangan jantung mungkin sama-sama memperoleh aspirin dan clopidogrel, tetapi alasan dan lamanya penggunaan dapat sangat berbeda.

8. Bagaimana dengan Fibrilasi Atrium?

Fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (gangguan irama jantung yang menyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur) merupakan salah satu kondisi penting yang perlu dipahami ketika membicarakan aspirin dan stroke.

Pada fibrilasi atrium, aktivitas listrik atrium menjadi tidak teratur. Akibatnya kontraksi atrium tidak berlangsung normal dan darah dapat mengalami stasis, terutama di left atrial appendage (apendiks atrium kiri).

Pada pasien tertentu, kondisi tersebut dapat menyebabkan terbentuknya trombus.

Trombus dapat terlepas, mengikuti aliran darah, kemudian menyumbat pembuluh darah otak dan menyebabkan stroke kardioembolik.

Mekanisme ini berbeda dengan stroke akibat aterotrombosis.

Pada pasien fibrilasi atrium dengan risiko stroke yang memenuhi kriteria terapi, strategi pencegahan umumnya menggunakan antikoagulan.

PNPK Stroke 2026 menegaskan bahwa aspirin tidak direkomendasikan sebagai pengganti antikoagulan pada fibrilasi atrium.2

Karena itu, pasien yang memperoleh warfarin, apixaban, rivaroxaban, dabigatran, atau antikoagulan lain tidak boleh menggantinya sendiri dengan Aspilets hanya karena keduanya sering disebut masyarakat sebagai “obat pengencer darah”.

Cara kerja dan indikasinya berbeda.

9. Apakah Hipertensi Harus Minum Aspirin?

Tidak.

Mempunyai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, ataupun usia lanjut memang dapat meningkatkan risiko penyakit kardio-serebrovaskular. Namun faktor risiko tersebut tidak otomatis menjadi indikasi pemberian aspirin.

Di sinilah kita perlu membedakan dua konsep:

Pencegahan primer adalah upaya mencegah kejadian kardiovaskular pertama pada seseorang yang belum pernah mengalami penyakit aterosklerotik klinis tertentu.

Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah kejadian berulang pada seseorang yang sudah mempunyai penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular tertentu.

Panduan Prevensi Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis PERKI menekankan pentingnya penilaian risiko secara individual.4

Pedoman AHA/ASA mengenai pencegahan primer stroke juga menempatkan pengendalian faktor risiko—seperti tekanan darah, diabetes, dislipidemia, merokok, aktivitas fisik, dan pola makan—sebagai fondasi utama pencegahan stroke pertama.12

Dengan demikian, seseorang berusia 60 tahun dengan hipertensi tidak seharusnya berpikir:

“Supaya aman, saya mulai Aspilets saja.”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Berapa risiko kardio-serebrovaskular saya, dan strategi pencegahan apa yang memberikan manfaat paling besar dengan risiko paling kecil?”

10. Manfaat Harus Ditimbang dengan Risiko Perdarahan

Setiap obat mempunyai manfaat dan risiko.

Dengan menurunkan kemampuan trombosit membentuk trombus, aspirin dapat mengurangi kejadian iskemik pada pasien yang tepat. Namun mekanisme yang sama juga dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya perdarahan.

Hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • mudah memar;

  • perdarahan hidung yang sulit berhenti;

  • perdarahan saluran cerna;

  • tukak lambung atau duodenum;

  • reaksi hipersensitivitas terhadap aspirin;

  • gangguan pernapasan terkait aspirin pada pasien tertentu; dan

  • perdarahan intrakranial yang jarang tetapi serius.

Risiko perdarahan juga dapat meningkat pada beberapa kondisi, misalnya riwayat perdarahan sebelumnya, penggunaan antikoagulan atau antiplatelet lain, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid tertentu, usia lanjut, serta gangguan ginjal atau hati tertentu.

Karena itu keputusan menggunakan aspirin selalu membutuhkan keseimbangan antara:

risiko trombosis

dan

risiko perdarahan.

Bukan sekadar pertanyaan apakah aspirin adalah obat yang “bagus” atau “tidak bagus”.

11. Apakah Aspirin Selalu Merusak Lambung?

Tidak selalu, tetapi aspirin memang dapat meningkatkan risiko gangguan dan perdarahan gastrointestinal.

Risiko tersebut tidak sama pada setiap orang.

Dokter dapat mempertimbangkan:

  • riwayat tukak lambung atau duodenum;

  • riwayat perdarahan gastrointestinal;

  • usia;

  • penggunaan antikoagulan;

  • penggunaan lebih dari satu antiplatelet;

  • penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid;

  • serta faktor risiko lainnya.

Pada pasien tertentu, dokter dapat mempertimbangkan terapi proteksi gastrointestinal.

Hal penting lain yang perlu dipahami adalah bahwa tablet salut enterik tidak berarti risiko perdarahan gastrointestinal menjadi hilang sama sekali.

Efek aspirin terhadap trombosit berlangsung secara sistemik. Karena itu, meskipun bentuk salut enterik dapat memengaruhi pelepasan obat di saluran cerna, risiko perdarahan tidak dapat dinilai hanya dari bentuk tabletnya.

12. Aspilets dan Merek Aspirin Lain

Aspilets adalah nama dagang, sedangkan aspirin atau asam asetilsalisilat adalah nama zat aktif.

Aspilets yang beredar saat ini mengandung acetylsalicylic acid 100 mg dalam bentuk tablet salut enterik.1

Namun Aspilets bukan satu-satunya produk aspirin dosis rendah yang tersedia di Indonesia.

Beberapa nama dagang lain yang mengandung asam asetilsalisilat antara lain:

  • Thrombo Aspilets;

  • Cardio Aspirin;

  • Farmasal; 

  • Cartylo; dan

  • Astika.

Nama dagang, produsen, bentuk sediaan, maupun kekuatan dosis dapat berbeda.

Karena itu, ketika menerima suatu obat, pasien sebaiknya tidak hanya mengingat warna tablet atau nama mereknya. Perhatikan juga:

  • nama zat aktif;

  • kekuatan dosis;

  • bentuk sediaan;

  • aturan penggunaan; dan

  • tujuan pemberiannya.

Sebagai contoh, meskipun Aspilets dan Thrombo Aspilets mempunyai nama yang mirip dan sama-sama mengandung aspirin, keduanya merupakan produk yang berbeda. Pasien tetap perlu memperhatikan kekuatan yang tertera pada kemasan dan resep yang diberikan.

Penyebutan nama dagang dalam artikel ini semata-mata ditujukan untuk edukasi agar masyarakat mengenali zat aktif obat yang digunakannya, bukan sebagai rekomendasi atau promosi terhadap merek tertentu.

13. Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Pasien yang menggunakan aspirin perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami antara lain:

  • muntah darah;

  • buang air besar hitam seperti aspal;

  • perdarahan yang sulit berhenti;

  • kelemahan anggota tubuh secara mendadak;

  • wajah mencong;

  • gangguan bicara;

  • nyeri kepala mendadak yang sangat berat;

  • penurunan kesadaran; atau

  • sesak dan reaksi alergi berat.

Gejala-gejala tersebut tidak boleh dianggap sebagai efek samping ringan yang dapat ditunggu di rumah.

14. Bolehkah Aspirin Dihentikan Sebelum Operasi?

Tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua pasien.

Keputusan menghentikan atau meneruskan aspirin sebelum operasi atau prosedur invasif bergantung pada banyak faktor, antara lain:

  • alasan aspirin diberikan;

  • apakah pasien mempunyai stent koroner;

  • kapan intervensi koroner dilakukan;

  • risiko trombosis jika obat dihentikan;

  • risiko perdarahan dari tindakan yang akan dilakukan;

  • penggunaan antiplatelet atau antikoagulan lain; serta

  • jenis operasi atau prosedur.

Menghentikan aspirin terlalu dini pada pasien tertentu dapat meningkatkan risiko kejadian trombotik.

Sebaliknya, meneruskan antiplatelet pada tindakan dengan risiko perdarahan tertentu juga dapat menimbulkan masalah.

Karena itu, pasien perlu memberi tahu dokter operator, dokter jantung, dokter saraf, dokter anestesi, dokter gigi, dan tenaga kesehatan terkait mengenai seluruh obat antitrombotik yang sedang digunakan.

Jangan menghentikan aspirin sendiri hanya karena akan menjalani suatu tindakan medis.

15. Jangan Mulai atau Berhenti Sendiri

Ada dua kesalahan yang sama-sama perlu dihindari.

Pertama, seseorang mulai minum Aspilets sendiri karena takut terkena stroke atau serangan jantung.

Kedua, pasien yang memang mempunyai indikasi menghentikan aspirin karena merasa dirinya sudah sehat.

Dalam penyakit kardio-serebrovaskular, tidak adanya keluhan tidak selalu berarti risikonya sudah hilang.

Pada sebagian pasien, aspirin diberikan justru untuk mencegah kejadian berikutnya yang belum terjadi.

Sebaliknya, pada orang yang tidak mempunyai indikasi yang jelas, penggunaan aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan tanpa memberikan manfaat bersih yang memadai.

Itulah sebabnya keputusan menggunakan aspirin tidak boleh didasarkan hanya pada usia, tekanan darah, hasil kolesterol, pengalaman anggota keluarga, atau anjuran orang lain yang mempunyai penyakit serupa.

16. Obat Kecil, Keputusan Besar

Aspirin telah digunakan dalam dunia kedokteran selama puluhan tahun. Obat ini relatif terjangkau, mudah tersedia, dan pada pasien yang tepat dapat memberikan manfaat yang sangat besar.

Namun kesederhanaan bentuk obat jangan membuat kita menyederhanakan keputusan penggunaannya.

Pada penyakit koroner, aspirin dapat menjadi bagian penting pencegahan kejadian berikutnya. Pada stroke iskemik nonkardioembolik, aspirin merupakan salah satu pilihan terapi antiplatelet utama. Pada stroke minor atau TIA tertentu, aspirin dapat dikombinasikan sementara dengan antiplatelet lain.

Namun pada stroke perdarahan, aspirin dapat menjadi masalah.

Pada fibrilasi atrium, aspirin bukan pengganti antikoagulan.

Dan pada pencegahan primer, aspirin tidak diberikan secara otomatis kepada setiap orang yang mempunyai faktor risiko.

Pengobatan terbaik bukanlah obat yang paling banyak kita minum, melainkan terapi yang paling tepat untuk penyakit, risiko, dan kebutuhan setiap pasien.

Pada akhirnya, tujuan penggunaan aspirin bukan sekadar mencegah trombosit saling melekat. Tujuan sesungguhnya jauh lebih besar: menjaga aliran darah tetap membawa kehidupan ke jantung dan otak, sembari mempertahankan keseimbangan terhadap risiko perdarahan.

Keputusan pengobatan yang baik tidak lahir dari rasa takut terhadap penyakit. Ia lahir dari pengetahuan, pemeriksaan yang tepat, komunikasi yang jujur, dan pilihan terapi yang dibuat secara bertanggung jawab.

17. Pesan Utama untuk Masyarakat

  1. Di tengah melimpahnya informasi kesehatan saat ini, ketelitian dalam memahami indikasi dan risiko obat adalah kunci utama keselamatan. Untuk memudahkan Anda, berikut adalah rangkuman pesan penting yang patut diperhatikan sebelum mengambil keputusan terkait penggunaan Aspilets maupun antiplatelet lainnya:

  2. Aspilets mengandung aspirin dan bekerja sebagai antiplatelet, bukan sekadar “pengencer darah”.

  3. Aspilets yang beredar saat ini tersedia dalam kekuatan 100 mg.

  4. Aspirin tidak otomatis diperlukan oleh semua orang dengan hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.

  5. Pada gejala stroke akut, jangan memberikan aspirin sendiri—SeGeRa Ke RS.

  6. Aspirin dapat digunakan pada stroke iskemik tertentu dan penyakit jantung koroner sesuai indikasi dokter.

  7. Pada fibrilasi atrium, aspirin bukan pengganti antikoagulan pada pasien yang mempunyai indikasi antikoagulasi.

  8. Kombinasi aspirin dengan clopidogrel atau antiplatelet lain hanya digunakan pada indikasi dan durasi tertentu.

  9. Risiko perdarahan harus selalu dipertimbangkan.

  10. Aspilets, Thrombo Aspilets, Cardio Aspirin, Farmasal, dan Astika merupakan contoh nama produk; hal terpenting adalah mengenali zat aktif dan kekuatan dosisnya.

  11. Jangan memulai, mengganti dosis, atau menghentikan aspirin tanpa berkonsultasi dengan dokter.

 

Referensi

  1. MIMS Indonesia. Aspilets: aspirin [Internet]. Jakarta: MIMS Indonesia; [diakses 25 Agustus 2026]. Tersedia dari: https://www.mims.com/indonesia/drug/info/aspilets

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/304/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Stroke. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2026.

  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut. Edisi ke-5. Jakarta: PERKI; 2024.

  4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Panduan Prevensi Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis. Jakarta: PERKI; 2022.

  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/876/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sindrom Koroner Akut. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2026.

  6. Kleindorfer DO, Towfighi A, Chaturvedi S, Cockroft KM, Gutierrez J, Lombardi-Hill D, et al. 2021 guideline for the prevention of stroke in patients with stroke and transient ischemic attack: a guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2021;52(7):e364-e467. doi:10.1161/STR.0000000000000375.

  7. Rao SV, O'Donoghue ML, Ruel M, Rab T, Tamis-Holland JE, Alexander JH, et al. 2025 ACC/AHA/ACEP/NAEMSP/SCAI guideline for the management of patients with acute coronary syndromes. J Am Coll Cardiol. 2025;85(22):2135-2237. doi:10.1016/j.jacc.2024.11.009.

  8. Byrne RA, Rossello X, Coughlan JJ, Barbato E, Berry C, Chieffo A, et al. 2023 ESC guidelines for the management of acute coronary syndromes. Eur Heart J. 2023;44(38):3720-3826. doi:10.1093/eurheartj/ehad191.

  9. Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, Rossello X, Adamo M, Ainslie J, et al. 2024 ESC guidelines for the management of chronic coronary syndromes. Eur Heart J. 2024;45(36):3415-3537. doi:10.1093/eurheartj/ehae177.

  10. Wang Y, Wang Y, Zhao X, Liu L, Wang D, Wang C, et al. Clopidogrel with aspirin in acute minor stroke or transient ischemic attack. N Engl J Med. 2013;369(1):11-19. doi:10.1056/NEJMoa1215340.

  11. Johnston SC, Easton JD, Farrant M, Barsan W, Conwit RA, Elm JJ, et al. Clopidogrel and aspirin in acute ischemic stroke and high-risk TIA. N Engl J Med. 2018;379(3):215-225. doi:10.1056/NEJMoa1800410.

  12. Bushnell C, Kernan WN, Sharrief AZ, Chaturvedi S, Cole JW, Cornwell WK 3rd, et al. 2024 guideline for the primary prevention of stroke: a guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2024;55(12):e344-e424. doi:10.1161/STR.0000000000000475.

  13. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Daftar obat komparator uji ekivalensi dan obat generik yang memenuhi kriteria bioekivalensi: acetylsalicylic acid [Internet]. Jakarta: BPOM RI; [diakses 25 Agustus 2026]. Tersedia dari: https://registrasiobat.pom.go.id/daftar-produk/produk-obat-komparator

  14. MIMS Indonesia. Thrombo Aspilets: aspirin [Internet]. Jakarta: MIMS Indonesia; [diakses 25 Agustus 2026]. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/thrombo-aspilets

All rights Reserved © RSUD dr. M. Haulussy Ambon, 2024

Made with   by  RSUD dr. M. Haulussy Ambon