hero-header

RSUD dr. M. Haulussy Ambon

Efek Plasebo: Jejak Harapan di Otak

 

Memahami Efek Plasebo dalam Pengobatan Pasien

 

Seri Neurosains dan Iman — Bagian 1

Catatan: Refleksi iman dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis, bukan posisi resmi RSUD dr. M. Haulussy Ambon dan bukan panduan klinis. Uraian ilmiah mengenai neurosains disusun berdasarkan literatur medis yang telah ditelaah.

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
— Amsal 17:22

1. Ketika Penjelasan Mengubah Keluhan

Di ruang praktik, tidak semua pelajaran datang dari buku atau hasil pemeriksaan. Sebagian justru muncul dari percakapan sederhana dengan pasien.

Seorang pasien dapat datang kembali setelah beberapa hari menjalani pengobatan dan berkata:

“Dok, setelah saya mengerti penjelasan tentang penyakit ini, saya merasa lebih tenang. Rasa sakitnya juga seperti tidak seberat sebelumnya.”

Apa sebenarnya yang berubah?

Obatnya mungkin belum diganti. Diagnosisnya juga tetap sama. Namun, sesuatu di dalam diri pasien telah berubah. Ketakutan mulai digantikan oleh pemahaman. Ketidakpastian mulai memperoleh nama, penjelasan, dan arah penanganan.

Ketika rasa takut berkurang dan harapan mulai tumbuh, pengalaman pasien terhadap penyakitnya dapat ikut berubah.

Tentu hasil pengobatan dipengaruhi oleh banyak hal: berat penyakit, usia, kondisi tubuh, penyakit penyerta, kepatuhan minum obat, pola hidup, serta dukungan keluarga. Namun, ilmu kedokteran modern menunjukkan bahwa harapan pasien terhadap pengobatan juga dapat memengaruhi cara otak memproses gejala.

Fenomena inilah yang dikenal sebagai efek plasebo.

2. Melanjutkan Percakapan tentang Hati Gembira

Dalam artikel sebelumnya, “Hati Gembira, Obat Kehidupan,” kita telah membahas hubungan antara sukacita, stres, sistem saraf, ketahanan batin, dukungan sosial, dan proses pemulihan. Pesan utamanya adalah bahwa sukacita bukan pengganti pengobatan, tetapi dapat menjadi penguat bagi seseorang yang sedang menjalaninya. (Baca artikel sebelumnya)

Artikel ini melanjutkan percakapan tersebut dengan sebuah pertanyaan yang lebih khusus:

Bagaimana harapan dapat diterjemahkan oleh otak menjadi perubahan biologis?

Di sinilah neurosains membawa kita lebih dalam—menuju mekanisme ekspektasi, pembelajaran, opioid endogen, dopamin, efek plasebo, dan kebalikannya yang disebut efek nocebo.

3. Apa Itu Efek Plasebo?

Dalam penelitian medis, plasebo biasanya berupa tablet, suntikan, alat, atau prosedur yang dibuat menyerupai terapi aktif, tetapi tidak mengandung komponen terapi spesifik yang sedang diuji.

Namun, efek plasebo bukan sekadar akibat meminum “pil kosong”.

Efek plasebo adalah perubahan gejala atau respons tubuh yang muncul karena konteks pengobatan, seperti:

  • harapan pasien;

  • pengalaman pengobatan sebelumnya;

  • penjelasan tenaga kesehatan;

  • rasa aman;

  • kepercayaan;

  • ritual pemberian terapi;

  • dan hubungan antara pasien dengan tenaga kesehatan.

Otak tidak hanya bereaksi terhadap kandungan kimia obat. Otak juga menangkap makna dari seluruh pengalaman pengobatan.

Ketika pasien diperiksa, memperoleh penjelasan, menerima resep, dan merasa sedang ditolong, seluruh rangkaian tersebut menyampaikan pesan kepada otak:

“Ada sesuatu yang sedang dilakukan untuk membantu saya.”

Pesan itu dapat memengaruhi cara otak mengatur nyeri, kecemasan, mual, kelelahan, dan sejumlah gejala lain. Efek plasebo melibatkan proses pembelajaran, ekspektasi, serta interaksi sosial, dengan keterlibatan beberapa sistem otak dan mediator kimia seperti opioid endogen dan dopamin.1–4

4. Bukan Berarti Penyakitnya Palsu

Salah satu kesalahpahaman yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa pasien yang merespons plasebo sebenarnya tidak sakit atau hanya mengalami penyakit “dalam pikirannya”.

Anggapan tersebut keliru.

Nyeri yang berkurang melalui respons plasebo tetap merupakan nyeri yang nyata. Mual, kecemasan, kekakuan, atau kelelahan yang dialami pasien juga bukan keluhan yang dibuat-buat.

Otak bukan kamera pasif yang hanya merekam sinyal dari tubuh. Otak menafsirkan sinyal tersebut dengan mempertimbangkan perhatian, ingatan, emosi, rasa aman, pengalaman sebelumnya, dan perkiraan mengenai apa yang akan terjadi.

Nyeri, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh kerusakan jaringan. Pengalaman nyeri juga dipengaruhi oleh ketakutan, kewaspadaan, makna, dan harapan seseorang.

Karena itu, luka yang serupa dapat dirasakan secara berbeda oleh dua orang. Bahkan orang yang sama dapat merasakan tingkat nyeri yang berbeda dalam keadaan emosional yang berbeda.

Hal ini tidak menjadikan nyeri tersebut palsu. Sebaliknya, hal tersebut memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara tubuh dan otak.

5. Otak Selalu Membuat Prediksi

Otak manusia terus-menerus memperkirakan apa yang akan terjadi.

Apakah situasi ini aman?

Apakah tindakan ini akan menyakitkan?

Apakah obat ini akan membantu?

Apakah saya masih dapat pulih?

Prediksi tersebut dibentuk oleh pengalaman masa lalu, informasi yang diterima, serta keadaan emosional saat ini. Otak kemudian membandingkannya dengan sinyal yang datang dari tubuh.

Ketika pasien memahami penyakitnya dan percaya bahwa terapi yang diterima mempunyai tujuan yang jelas, otak dapat membentuk ekspektasi yang lebih positif. Ekspektasi ini tidak menciptakan kesembuhan secara ajaib, tetapi dapat memengaruhi perhatian, kecemasan, motivasi, dan cara gejala dirasakan.

Dengan kata lain:

Harapan mengubah prediksi. Prediksi memengaruhi cara otak memproses pengalaman tubuh.

6. Ketika Harapan Memiliki Jejak Biologis

Penelitian menggunakan tomografi emisi positron (positron emission tomography, PET) dan pencitraan resonansi magnetik fungsional (functional magnetic resonance imaging, fMRI) menunjukkan bahwa efek plasebo berkaitan dengan aktivitas jaringan otak yang mengatur perhatian, emosi, antisipasi, sistem penghargaan, dan modulasi nyeri.2,4

Beberapa wilayah yang terlibat antara lain korteks prefrontal, korteks singulata anterior, insula, nukleus akumbens (nucleus accumbens), serta bagian batang otak yang berperan dalam modulasi nyeri.

Salah satu mekanisme yang paling banyak dipelajari adalah aktivasi opioid endogen.

Opioid endogen merupakan zat yang diproduksi oleh tubuh dan bekerja pada reseptor opioid. Kelompok ini mencakup endorfin, enkefalin, dan dinorfin. Zat-zat tersebut ikut mengatur nyeri, stres, dan respons emosional.

Pada keadaan tertentu, harapan akan memperoleh pereda nyeri dapat mengaktifkan sistem opioid endogen. Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian analgesia plasebo dapat dikurangi oleh nalokson, yaitu obat yang menghambat reseptor opioid.4

Artinya, respons tersebut bukan semata-mata pasien mengatakan dirinya merasa lebih baik. Terdapat perubahan neurokimia yang dapat diukur.

Namun, tidak semua efek plasebo bekerja melalui opioid endogen. Mekanismenya dapat berbeda menurut penyakit, gejala, pengalaman pasien, dan jenis intervensi.

7. Dopamin dan Penyakit Parkinson

Penelitian terhadap penyakit Parkinson memberikan salah satu gambaran paling menarik mengenai efek plasebo.

Penyakit Parkinson berkaitan dengan degenerasi neuron dopaminergik pada jalur nigrostriatal. Dalam penelitian menggunakan PET, pemberian plasebo dalam konteks ekspektasi terapeutik dapat memicu pelepasan dopamin endogen di striatum pasien Parkinson.5

Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa kekuatan ekspektasi terhadap kemungkinan menerima terapi aktif dapat memengaruhi derajat pelepasan dopamin tersebut.6

Temuan ini tentu tidak berarti plasebo dapat menyembuhkan Parkinson. Plasebo tidak menghentikan proses neurodegeneratif dan tidak menggantikan levodopa maupun terapi lain yang telah terbukti efektif.

Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebuah ekspektasi—“terapi ini mungkin menolong saya”—dapat diterjemahkan menjadi perubahan aktivitas neurotransmiter.

Bagi neurosains, ini merupakan kenyataan yang sangat menarik: harapan memiliki jejak biologis di dalam otak.

8. Tidak Semua Perbaikan Adalah Efek Plasebo

Dalam penelitian, perubahan yang terjadi setelah pemberian plasebo disebut respons plasebo. Namun, tidak seluruh perubahan tersebut disebabkan oleh efek plasebo yang sesungguhnya.

Gejala pasien dapat membaik karena:

  • perjalanan alamiah penyakit;

  • proses penyembuhan spontan;

  • keluhan yang memang naik dan turun;

  • perubahan gaya hidup;

  • perhatian tambahan dari tenaga kesehatan;

  • atau regresi menuju rerata.

Regresi menuju rerata terjadi ketika pasien mencari pengobatan saat gejalanya sedang berada pada titik terberat. Setelah beberapa waktu, keluhan dapat kembali mendekati tingkat biasanya, meskipun terapi yang diterima tidak mempunyai efek khusus.

Kajian yang membandingkan plasebo dengan tanpa terapi menunjukkan bahwa intervensi plasebo secara umum tidak menghasilkan efek klinis penting. Efek kecil dapat ditemukan pada sebagian luaran yang dilaporkan pasien, terutama nyeri, dengan besar efek yang bervariasi antarpenelitian.8

Pembedaan ini penting agar kita tidak membesar-besarkan kekuatan plasebo.

Efeknya nyata, tetapi terbatas.

9. Harapan Bukan Pengganti Obat

Efek plasebo lebih mudah terlihat pada gejala yang pemrosesannya sangat dipengaruhi oleh sistem saraf pusat, seperti:

  • nyeri;

  • mual;

  • kecemasan;

  • kelelahan;

  • gangguan tidur;

  • beberapa keluhan saluran cerna;

  • dan sebagian gejala motorik Parkinson.

Namun, berkurangnya gejala tidak selalu berarti penyebab penyakit telah teratasi.

Plasebo dapat membantu mengurangi pengalaman nyeri, tetapi tidak menyambung tulang yang patah.

Plasebo tidak membunuh bakteri penyebab infeksi.

Plasebo tidak menggantikan insulin pada diabetes tipe 1.

Plasebo tidak melarutkan bekuan darah pada stroke akut.

Plasebo juga tidak menggantikan operasi atau pengobatan kanker yang memang diperlukan.

Karena itu, harapan harus berjalan bersama kebenaran.

Harapan yang sehat memperkuat terapi. Harapan palsu justru dapat membuat pasien menunda pertolongan yang diperlukan.

10. Efek Nocebo: Ketika Kata-Kata Menambah Beban

Kebalikan dari efek plasebo disebut efek nocebo.

Efek nocebo terjadi ketika ekspektasi negatif, pengalaman buruk, informasi yang menakutkan, atau komunikasi yang tidak tepat membuat pasien lebih mudah mengalami atau memperberat suatu gejala.3

Pasien yang sangat yakin bahwa obat tertentu akan menyebabkan pusing dapat menjadi lebih waspada terhadap setiap perubahan kecil pada tubuhnya. Sensasi ringan kemudian terasa lebih mengganggu.

Efek nocebo tidak berarti pasien berbohong. Ekspektasi negatif dapat meningkatkan kecemasan dan memperkuat perhatian terhadap sensasi tubuh. Pengalaman negatif sebelumnya, informasi verbal, pengamatan terhadap orang lain, dan konteks lingkungan dapat ikut memicunya.

Tenaga kesehatan tetap wajib menjelaskan risiko dan efek samping secara jujur. Namun, kejujuran tidak harus disampaikan dengan cara yang menakutkan.

Bandingkan dua kalimat berikut:

“Obat ini sering membuat pasien mual dan pusing.”

dengan:

“Sebagian pasien dapat mengalami mual atau pusing, tetapi banyak yang dapat menggunakan obat ini dengan baik. Bila keluhan muncul, segera sampaikan agar dapat kita tangani.”

Keduanya menyampaikan risiko. Namun, kalimat kedua juga memberi rasa aman dan rencana penanganan.

Kata-kata dapat menjadi bagian dari terapi, tetapi kata-kata juga dapat menjadi beban.

11. Dokter dan Perawat sebagai Bagian dari Terapi

Dalam kedokteran dikenal gagasan bahwa dokter sendiri dapat menjadi bagian dari terapi.

Artinya bukan dokter menggantikan obat, tetapi cara dokter mendengarkan, menjelaskan, menunjukkan empati, dan membangun kepercayaan dapat memengaruhi pengalaman pasien.

Penelitian pada pasien dengan sindrom iritasi usus menunjukkan bahwa hubungan terapeutik yang hangat dan penuh perhatian dapat memperkuat hasil yang dialami pasien dibandingkan interaksi yang terbatas.7

Hal yang sama berlaku bagi perawat, apoteker, fisioterapis, petugas pendaftaran, dan seluruh staf rumah sakit.

Perawat yang menjelaskan prosedur dengan tenang dapat mengurangi ketakutan.

Apoteker yang menjelaskan aturan pakai obat dengan jelas dapat meningkatkan kepatuhan.

Petugas yang melayani tanpa menghardik dapat mengurangi tekanan sejak pasien memasuki rumah sakit.

Di rumah sakit, pasien tidak hanya menerima terapi dari resep. Ia menerima pesan dari seluruh perjalanan pelayanan.

Apakah saya didengarkan?

Apakah saya memahami apa yang sedang terjadi?

Apakah saya aman untuk bertanya?

Apakah saya diperlakukan sebagai manusia?

Pertanyaan tersebut bukan hanya mengenai keramahan. Jawabannya dapat memengaruhi kecemasan, kepercayaan, kepatuhan, dan keberlanjutan terapi.

“Terkadang obat bekerja pada penyakit, tetapi kasih bekerja pada manusia.”
— Refleksi penulis

12. Bolehkah Dokter Memberikan Plasebo?

Memberikan plasebo secara diam-diam sambil mengatakan bahwa itu adalah obat aktif menimbulkan persoalan etika. Tindakan tersebut dapat melanggar kejujuran, otonomi pasien, dan kepercayaan dalam hubungan terapeutik.

Di Indonesia, prinsip tersebut selaras dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 9 yang mewajibkan dokter bersikap jujur dalam hubungan dengan pasien.11 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, khususnya Pasal 276, memberikan hak kepada pasien untuk memperoleh informasi dan penjelasan yang memadai serta menolak atau menyetujui tindakan medis. Pasal 293 menegaskan bahwa setiap tindakan pelayanan kesehatan perseorangan harus memperoleh persetujuan setelah pasien mendapatkan penjelasan yang memadai.12 Ketentuan tersebut diperinci dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Pasal 737, yang menegaskan bahwa penjelasan harus cukup, lengkap, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami; keputusan pasien untuk menolak atau menyetujui tindakan juga dicatat dalam rekam medis.13 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tetap dapat digunakan sebagai rujukan teknis sepanjang belum diganti dan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.14 Dengan demikian, pemberian plasebo secara tersembunyi dapat bertentangan dengan kejujuran profesi, otonomi pasien, serta hak pasien atas informasi dan persetujuan.

Plasebo juga tidak boleh digunakan untuk menggantikan terapi yang telah terbukti efektif.

Pendekatan yang lebih tepat adalah memanfaatkan unsur positif dari efek plasebo tanpa menipu pasien, yaitu melalui:

  • komunikasi yang jujur;

  • penjelasan yang mudah dipahami;

  • ekspektasi yang realistis;

  • hubungan terapeutik yang baik;

  • pengambilan keputusan bersama;

  • dan lingkungan pelayanan yang menumbuhkan rasa aman.

Penelitian juga mulai mempelajari open-label placebo, yaitu plasebo yang diberikan dengan penjelasan terbuka bahwa tablet tersebut tidak mengandung zat aktif spesifik.

Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan manfaat pada beberapa gejala. Namun, hasilnya bervariasi dan cenderung lebih jelas pada luaran yang dilaporkan pasien daripada pengukuran objektif. Karena itu, pendekatan ini belum dapat dipandang sebagai terapi rutin dan tetap bukan pengganti terapi standar.9,10

13. Ketika Neurosains Bertemu Firman Tuhan

Jauh sebelum manusia mengenal PET, fMRI, dopamin, atau opioid endogen, Kitab Amsal telah mencatat:

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Amsal 17:22 bukan penjelasan ilmiah tentang efek plasebo. Alkitab bukan buku teks neurologi. Namun, hikmat tersebut memandang manusia sebagai kehidupan yang utuh—tubuh, pikiran, emosi, relasi, dan keadaan rohani tidak sepenuhnya terpisah.

Sains bertanya:

Bagaimana harapan memengaruhi otak dan tubuh?

Iman bertanya:

Dari mana manusia memperoleh kekuatan untuk tetap berharap ketika keadaan belum berubah?

Sains menjelaskan mekanisme. Iman memberi ruang bagi makna, tujuan, kasih, dan pengharapan.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan, tetapi juga tidak boleh dicampuradukkan secara sembarangan.

Doa bukan plasebo.

Iman tidak dapat direduksi menjadi aktivitas neurotransmiter.

Mukjizat tidak sama dengan efek plasebo.

Sebaliknya, iman juga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menolak pengobatan. Mengatakan bahwa seseorang belum sembuh karena kurang beriman dapat menambah beban dan luka.

Orang yang beriman tetap dapat mengalami penyakit berat. Ia tetap dapat membutuhkan obat, operasi, rehabilitasi, dan pendampingan tenaga kesehatan.

Iman bukan lawan dari ilmu kedokteran.

14. Harapan Tidak Selalu Berarti Sembuh

Tidak semua penyakit dapat disembuhkan. Ada pasien yang hidup dengan penyakit kronis. Ada fungsi tubuh yang tidak kembali sepenuhnya. Ada saat ketika tujuan pengobatan berubah dari menyembuhkan menjadi mengurangi penderitaan dan mempertahankan martabat.

Namun, harapan tetap mempunyai tempat.

Harapan tidak selalu berarti:

“Saya pasti sembuh.”

Harapan juga dapat berarti:

“Saya tidak menghadapi perjalanan ini sendirian.”

“Saya masih dapat menjalani hari ini dengan bermakna.”

“Saya akan mencapai kemampuan terbaik yang masih mungkin.”

“Tuhan tetap menyertai, meskipun jawaban yang saya terima tidak sama dengan yang saya harapkan.”

Harapan yang matang tidak selalu mengubah keadaan. Kadang harapan mengubah cara seseorang berjalan di dalam keadaan tersebut.

Penutup

Efek plasebo bukan terutama kisah tentang pil kosong.

Ia adalah kisah tentang otak yang merespons harapan, tubuh yang belajar dari pengalaman, dan manusia yang mencari makna ketika berhadapan dengan penyakit.

Namun, efek plasebo mempunyai batas.

Harapan tidak membunuh kuman.

Sukacita tidak menggantikan operasi.

Doa tidak menggantikan insulin.

Empati tidak menggantikan kompetensi.

Pengobatan terbaik terjadi ketika ilmu yang benar diberikan melalui hubungan yang benar—ketika dokter memilih terapi berbasis bukti, tenaga kesehatan menghadirkan rasa aman, keluarga memberikan dukungan, dan pasien memperoleh penjelasan yang dapat dipahami.

Artikel sebelumnya mengingatkan bahwa hati yang gembira dapat menjadi obat kehidupan. Neurosains kini membantu kita memahami salah satu bagian dari misteri tersebut: harapan dapat diterjemahkan oleh otak menjadi respons biologis.

Mungkin di sinilah ilmu dan iman berdiri berdampingan. Bukan untuk saling menggantikan, tetapi untuk mengingatkan bahwa manusia diciptakan secara menakjubkan.

Ketika hati kembali mempunyai pegangan, tubuh mungkin belum langsung sembuh. Namun, manusia memperoleh kekuatan untuk menjalani jalan pemulihan dengan cara yang berbeda.

“Harapan bukan pengganti terapi, tetapi dapat menjadi ruang tempat terapi bekerja dengan lebih manusiawi.”
— Refleksi penulis

 

* Penulis adalah dokter spesialis saraf dan Kepala Instalasi SIMRS RSUD dr. M. Haulussy Ambon.

** Bagian dari Seri Neurosains dan Iman — refleksi tentang pertemuan antara neurosains dan iman dalam pelayanan kesehatan.

Daftar Referensi

1. Finniss DG, Kaptchuk TJ, Miller F, Benedetti F. Biological, clinical, and ethical advances of placebo effects. Lancet. 2010;375(9715):686–695. doi:10.1016/S0140-6736(09)61706-2.

2. Wager TD, Atlas LY. The neuroscience of placebo effects: connecting context, learning and health. Nat Rev Neurosci. 2015;16(7):403–418. doi:10.1038/nrn3976.

3. Colloca L, Barsky AJ. Placebo and nocebo effects. N Engl J Med. 2020;382(6):554–561. doi:10.1056/NEJMra1907805.

4. Benedetti F, Mayberg HS, Wager TD, Stohler CS, Zubieta JK. Neurobiological mechanisms of the placebo effect. J Neurosci. 2005;25(45):10390–10402. doi:10.1523/JNEUROSCI.3458-05.2005.

5. de la Fuente-Fernández R, Ruth TJ, Sossi V, Schulzer M, Calne DB, Stoessl AJ. Expectation and dopamine release: mechanism of the placebo effect in Parkinson's disease. Science. 2001;293(5532):1164–1166. doi:10.1126/science.1060937.

6. Lidstone SC, Schulzer M, Dinelle K, et al. Effects of expectation on placebo-induced dopamine release in Parkinson disease. Arch Gen Psychiatry. 2010;67(8):857–865. doi:10.1001/archgenpsychiatry.2010.88.

7. Kaptchuk TJ, Kelley JM, Conboy LA, et al. Components of placebo effect: randomised controlled trial in patients with irritable bowel syndrome. BMJ. 2008;336(7651):999–1003. doi:10.1136/bmj.39524.439618.25.

8. Hróbjartsson A, Gøtzsche PC. Placebo interventions for all clinical conditions. Cochrane Database Syst Rev. 2010;(1):CD003974. doi:10.1002/14651858.CD003974.pub3.

9. Kaptchuk TJ, Friedlander E, Kelley JM, et al. Placebos without deception: a randomized controlled trial in irritable bowel syndrome. PLoS One. 2010;5(12):e15591. doi:10.1371/journal.pone.0015591.

10. Fendel JC, Tiersch C, Sölder P, Gaab J, Schmidt S. Effects of open-label placebos across populations and outcomes: an updated systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Sci Rep. 2025;15:29940. doi:10.1038/s41598-025-14895-z.

11. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), Pasal 9. Jakarta: IDI; 2012.

12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, khususnya Pasal 276 dan Pasal 293.

13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, khususnya Pasal 737.

14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

 

 

All rights Reserved © RSUD dr. M. Haulussy Ambon, 2024

Made with   by  RSUD dr. M. Haulussy Ambon